Skip to main content

Review Prosedur, Perlukah?

Tata cara review prosedur dan dokumen ISO

Perlukah Prosedur Direview Minimal Setahun Sekali?

Salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam penerapan sistem manajemen mutu adalah:
 "Apakah prosedur perlu dikaji ulang (review) secara berkala, minimal satu kali dalam satu tahun?"

Pertanyaan ini memunculkan berbagai pandangan dari para praktisi mutu dan anggota QualityClub. Menariknya, meskipun terdapat perbedaan pendekatan, sebagian besar sepakat bahwa proses review tetap penting untuk memastikan dokumen dan sistem manajemen tetap relevan dengan kondisi organisasi.

Memahami Perbedaan Review dan Revisi

Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk memahami bahwa review tidak selalu berarti revisi.

Review adalah kegiatan menilai apakah suatu prosedur masih:
  • Sesuai dengan proses yang berjalan.
  • Efektif dalam mendukung operasional.
  • Selaras dengan persyaratan standar yang berlaku.
  • Relevan dengan kebijakan dan sasaran organisasi.
Sementara itu, revisi dilakukan apabila hasil review menunjukkan adanya kebutuhan perubahan pada dokumen.

Dengan kata lain, hasil review bisa berupa:
  1. Dokumen tetap berlaku tanpa perubahan.
  2. Dokumen perlu direvisi.
  3. Dokumen perlu dinonaktifkan karena prosesnya sudah tidak ada.

Kapan Review Prosedur Dilakukan?

Dalam praktiknya terdapat beberapa pendekatan yang umum digunakan.

1. Melalui Audit Internal

Banyak organisasi melakukan review prosedur bersamaan dengan kegiatan audit internal. Audit internal menjadi momen yang tepat karena auditor dapat mengevaluasi:
  • Kesesuaian implementasi dengan prosedur.
  • Efektivitas proses.
  • Kebutuhan pembaruan dokumen.
Jika audit internal dilakukan satu atau dua kali setahun, maka kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk memastikan prosedur tetap relevan.

2. Melalui Rapat Tinjauan Manajemen (RTM)

Beberapa praktisi berpendapat bahwa review prosedur sebaiknya menjadi bagian dari Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) yang dilakukan minimal setahun sekali. Dalam forum ini, manajemen mengevaluasi:
  • Efektivitas sistem manajemen.
  • Kebijakan perusahaan.
  • Sasaran mutu.
  • Kinerja proses.
Hasil evaluasi tersebut dapat menjadi dasar apakah suatu prosedur perlu diperbarui atau tidak.

3. Berdasarkan Jadwal Review Dokumen

Banyak perusahaan menerapkan jadwal review dokumen yang terstruktur, misalnya:
  • Setiap satu tahun sejak tanggal efektif dokumen.
  • Satu tahun sejak review terakhir.
  • Berdasarkan jadwal reassessment yang telah ditetapkan.
Pendekatan ini membantu memastikan seluruh dokumen sistem manajemen dikaji secara berkala dan tidak terlewat.

Apakah Prosedur Harus Direview Jika Tidak Ada Perubahan Proses?

Ini menjadi salah satu topik yang cukup sering diperdebatkan. Ada pendapat bahwa jika proses tidak berubah, maka prosedur tidak perlu direvisi. Pendapat ini benar. Namun demikian, review tetap diperlukan untuk memastikan bahwa:
  • Memang tidak ada perubahan proses yang belum terdokumentasi.
  • Tidak ada perubahan regulasi atau standar.
  • Tidak ada perubahan teknologi yang memengaruhi cara kerja.
  • Prosedur masih efektif dan dipahami oleh pengguna.
Karena itu, walaupun hasil akhirnya tidak ada revisi, proses review tetap memberikan nilai tambah bagi organisasi.

Kondisi yang Mengharuskan Prosedur Direvisi

Secara umum, prosedur perlu diperbarui apabila terjadi:

1. Perubahan Proses Bisnis

Contohnya:
  • Penambahan tahapan kerja.
  • Penggunaan teknologi baru.
  • Perubahan alur proses.

2. Prosedur Tidak Lagi Efektif

Misalnya:
  • Terjadi banyak penyimpangan saat implementasi.
  • Proses menjadi tidak efisien.
  • Muncul temuan audit yang berulang.

3. Perubahan Standar atau Regulasi

Contohnya:
  • Revisi standar ISO.
  • Peraturan pemerintah baru.
  • Persyaratan pelanggan yang berubah.

4. Proses Sudah Tidak Berlaku

Jika suatu aktivitas sudah tidak dilakukan lagi, prosedurnya dapat dinonaktifkan atau dicabut.

Review Tidak Hanya untuk Prosed
ur

Beberapa organisasi menerapkan **kaji ulang dokumen sistem manajemen** secara menyeluruh.

Dokumen yang direview meliputi:
  • Manual sistem manajemen.
  • Prosedur.
  • Instruksi kerja (IK/WI).
  • Formulir.
  • Dokumen pendukung lainnya.
Tujuannya adalah memastikan seluruh dokumen selalu mencerminkan kondisi aktual perusahaan.

Bagaimana Membuktikan Bahwa Review Sudah Dilakukan?

Pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah:

"Apa evidence bahwa prosedur sudah direview?"

Ada beberapa cara yang dapat digunakan, antara lain:

1. Daftar atau Log Review Dokumen

Membuat tabel yang memuat:
  • Nama dokumen.
  • Tanggal review.
  • Reviewer.
  • Hasil review.
  • Tindak lanjut.

2. Catatan pada Dokumen

Memberikan tanda atau kolom khusus yang menunjukkan bahwa dokumen telah direview pada tanggal tertentu.

3. Lembar Pengesahan atau Review

Dokumen diedarkan kepada pihak terkait untuk dikaji, kemudian reviewer memberikan:
  • Tanda tangan.
  • Nama reviewer.
  • Tanggal review.

4. Bukti Meeting Review

Jika review dilakukan melalui rapat, maka evidence dapat berupa:
  • Daftar hadir (attendance list).
  • Notulen rapat (Minutes of Meeting).
  • Master list dokumen.
  • Rekap hasil evaluasi setiap prosedur.

Kesimpulan

Walaupun tidak semua standar secara eksplisit mewajibkan revisi prosedur setiap tahun,review berkala terhadap prosedur sangat dianjurkan dan menjadi praktik yang baik dalam sistem manajemen.

Hal yang paling penting bukanlah seberapa sering prosedur direvisi, melainkan bagaimana organisasi memastikan bahwa prosedur:
  • Tetap sesuai dengan proses aktual.
  • Efektif dalam penerapannya.
  • Memenuhi persyaratan standar dan regulasi.
  • Mendukung pencapaian sasaran organisasi.
Karena itu, melakukan review dokumen minimal satu kali dalam setahun merupakan langkah yang bijak untuk menjaga sistem manajemen tetap relevan, efektif, dan selalu selaras dengan perkembangan organisasi.

Comments

Popular posts from this blog

Contoh Instruksi Kerja lengkap dengan Flowchart dan Panduan Lain

Dalam dokumen ISO, terdapat jenis dokumen yang dikenal sebagai Instruksi Kerja (IK) , dan dokumen ini memiliki fungsi yang sangat penting. Instruksi Kerja memberikan panduan kerja secara rinci dan sistematis. Contoh Instruksi Kerja antara lain IK pengoperasian mesin, IK proses pengeluaran uang kas, serta IK untuk berbagai kegiatan teknis lainnya. Contoh Instruksi Kerja yang dikirim oleh anggota QualityClub dapat kamu unduh. Dokumen tersebut memuat flowchart dalam format Excel. Silakan unduh Instruksi Kerja (IK) dalam format PDF yang tersedia. Link  Instruksi kerja atau IK (pdf) Baca juga: Siapa yang bertanggung jawab membuat prosedur?

Formulir Evaluasi Auditor Internal ISO 9001

Kegiatan audit internal merupakan kegiatan penting dalam sistem manajemen mutu ISO 9001 dan karenanya perlu ditingkatkan. Salah satu cara untuk meningkatkan proses audit internal di perusahaan dengan melakukan evaluasi auditor internal. Tujuannya agar auditor internal bisa dinilai kompetensinya sebagai auditor sehingga bisa ditingkatkan bila hasil penilaian dinyatakan kurang atau tidak memadai. Metode evaluasi atau penilaian auditor internal tidak ditentukan oleh standar manajemen mutu ISO 9001. Tata cara evaluasi auditor ditentukan internal perusahaan.  Pada umumnya evaluasi auditor internal dilakukan dengan mengisi form evaluasi. Berbagai form evaluasi bisa dibuat, salah satunya form evaluasi berikut ini yakni dokumen yang di- share  seorang anggota QualityClub dan bisa Anda gunakan. Evaluasi auditor internal dilaksanakan secara berkala sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan manajemen perusahaan. Silahkan gunakan formulir evaluasi auditor internal di atas. Baca juga: Kualif...

Apakah Management Representative (MR) sebaiknya merangkap jabatan atau berdiri sendiri?

Rangkuman diskusi QualityClub, Selasa, 4 Mei 2021: Pertanyaan Dear rekan-rekan mutu, Menurut pendapat rekan-rekan, dalam suatu perusahaan manufaktur, mana yang lebih efektif untuk jabatan Management Representative (MR): dirangkap dengan jabatan lain atau dibentuk sebagai departemen tersendiri (personel khusus)? Apa saja keuntungan dan kerugian jika MR menjabat secara rangkap atau berdiri sendiri? Jawaban 1 Perlu dilakukan asesmen terlebih dahulu terhadap lingkup dan beban pekerjaan sebelum menentukan apakah jabatan tersebut sebaiknya menjadi departemen tersendiri atau digabung dengan jabatan lain.   Jawaban 2 Saya ikut berpendapat, Pak. Kebetulan saya pernah berada di kedua posisi tersebut. Secara sederhana, gambaran perbandingannya sebagai berikut: Jika dirangkap: Keuntungannya, dari sisi perusahaan, tentu lebih hemat biaya karena satu orang memiliki beberapa kompetensi. Kerugiannya, sulit untuk fokus ketika aktivitas MR meningkat. Jika terpisah: MR dapat lebih fokus menjalanka...