Di era digital, perusahaan memiliki semakin banyak pilihan dalam membuat dan menyampaikan SOP, Instruksi Kerja (IK), form, maupun rekaman. Dokumen tidak selalu harus menggunakan template baku atau dibuat dalam format Word. PowerPoint (PPT), flowchart, maupun media digital lainnya juga dapat digunakan. Yang terpenting adalah pengendalian dokumennya . Meskipun SOP dibuat menggunakan PPT, tetap perlu memiliki identifikasi yang jelas, seperti kode atau nomor dokumen, revisi, tanggal berlaku, pengesahan, serta mekanisme distribusi dan penelusuran. Lalu, apakah SOP harus dibuat panjang dan detail? Tidak harus. SOP boleh dibuat ringkas selama tujuan, informasi penting, dan cara pelaksanaan proses dapat dipahami oleh karyawan. Karena itu, efektivitas SOP sebaiknya tidak dinilai dari tebal, panjang, atau format dokumennya, tetapi dari apakah SOP tersebut: Mudah dipahami; Dapat diterapkan; Sesuai dengan aktivitas yang dijalankan; Mudah diakses; dan Tetap terkendali serta dapat ditelusuri. D...
Rangkuman Diskusi QualityClub Salah satu anggota QualityClub menceritakan pengalamannya. Perusahaannya sudah menerapkan ISO selama kurang lebih 6 tahun dan sekarang memasuki tahun ke-7, atau akan menghadapi resertifikasi yang kedua. Namun, meskipun sudah cukup lama menerapkan ISO, masih banyak masalah yang terjadi. Mulai dari complaint customer sampai keterlambatan maintenance yang akhirnya juga menyebabkan complaint dari customer. Sebagai Management representative (MR), ia juga sering mendapat sindiran dari Top Management bahwa penerapan ISO di perusahaan hanya sekadar formalitas . Pertanyaannya kemudian dilempar ke teman-teman di QualityClub: Apakah ada yang pernah mengalami kondisi seperti ini? Bagaimana cara mengatasinya? ISO Jangan Menjadi One Man Show Salah satu tanggapan dalam diskusi menyebutkan bahwa kondisi seperti ini cukup banyak terjadi di perusahaan yang sudah menerapkan ISO, bahkan yang sudah bertahun-tahun. Salah satu penyebabnya adalah penerapan ISO masih one man ...