Skip to main content

ISO 45001: Bagaimana identifikasi karyawan yang memiliki penyakit dalam K3

Karyawan dan kaitannya dengan risiko K3

Diskusi Quality Club: Apakah Penyakit Karyawan Perlu Diidentifikasi sebagai Risiko K3?

Halo Quality Club,

Baru-baru ini di Jakarta terjadi kecelakaan bus. Menurut surat kabar Republika (4 November 2021), penyebab kecelakaan diduga karena sopir mengalami serangan epilepsi. Kecelakaan terjadi karena sopir tidak melakukan pengereman dan diduga kehilangan kesadaran akibat penyakit tersebut.

Pertanyaannya, dalam penerapan sistem manajemen ISO 45001, apakah penyakit yang diderita karyawan perlu diidentifikasi sebagai risiko K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)?

---

Tanggapan Peserta Diskusi

1. Identifikasi penyakit tertentu perlu dilakukan

Menurut beberapa peserta diskusi, pada posisi atau area kerja tertentu perlu ditetapkan persyaratan kesehatan bagi karyawan.

Contohnya di salah satu perusahaan:
  • Karyawan yang memiliki penyakit epilepsi atau vertigo tidak diperbolehkan bekerja di bagian teknik, kecuali di area tertentu seperti gudang suku cadang teknik.
  • Operator produksi juga tidak diperbolehkan memiliki penyakit epilepsi.
Persyaratan kesehatan tersebut ditetapkan untuk menjaga keselamatan kerja dan juga untuk memenuhi persyaratan sistem manajemen seperti ISO 22000.

---

2. Risiko tidak hanya terkait K3, tetapi juga mutu

Selain risiko K3, kondisi kesehatan karyawan juga dapat berdampak pada risiko mutu.

Oleh karena itu, proses identifikasi dan penilaian risiko perlu dilakukan secara komprehensif. Pemeriksaan kesehatan karyawan sebaiknya disesuaikan dengan jenis pekerjaan agar tidak terkesan diskriminatif.

---

3. Program kesehatan sering kurang mendapat perhatian

Dalam praktiknya, pemantauan kesehatan karyawan sering hanya dilakukan saat Medical Check Up (MCU).

Pada saat operasional berjalan normal, perhatian perusahaan sering lebih fokus pada aspek keselamatan dan mutu. Akibatnya, program kesehatan karyawan terkadang kurang mendapat perhatian yang memadai.

---

4. Regulasi sebenarnya sudah mengatur pemeriksaan kesehatan pekerja

Sebenarnya terdapat berbagai regulasi yang mewajibkan perusahaan untuk:
  • melakukan pemeriksaan kesehatan berkala bagi pekerja, dan
  • mengikutsertakan pekerja dalam program jaminan K3.

Namun dalam praktiknya, aspek health (kesehatan) sering kurang diperhatikan karena perusahaan lebih fokus pada aspek safety (keselamatan).

---

5. Pemeriksaan kesehatan biasanya dilakukan sejak awal perekrutan

Beberapa perusahaan melakukan pemeriksaan kesehatan secara sistematis, antara lain:
  • Medical Check Up awal saat proses rekrutmen.
  • Pemeriksaan kesehatan yang lebih detail untuk posisi atau jabatan tertentu.
  • Screening penyakit bawaan maupun kondisi fisik lainnya.
  • Medical Check Up berkala, biasanya dilakukan setiap tahun.
Di beberapa perusahaan, pengelolaan kesehatan kerja menjadi tanggung jawab dokter perusahaan, sedangkan aspek K3 dikelola oleh safety officer.

---

6. Pemeriksaan kesehatan rutin di perusahaan
Beberapa peserta diskusi juga menyampaikan bahwa di perusahaan mereka, pemeriksaan kesehatan dilakukan:
  • saat proses perekrutan karyawan, dan
  • secara rutin setiap tahun melalui Medical Check Up (MCU).
---
Kesimpulan

Dalam penerapan ISO 45001, kondisi kesehatan karyawan dapat menjadi salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam identifikasi risiko K3. Hal ini terutama berlaku untuk pekerjaan yang memiliki risiko tinggi.

Melalui pemeriksaan kesehatan awal dan pemeriksaan berkala, perusahaan dapat memastikan bahwa pekerja berada dalam kondisi yang sesuai dengan tuntutan pekerjaannya, sehingga keselamatan, kesehatan, dan kualitas kerja dapat tetap terjaga.

---
Baca juga

Comments

Popular posts from this blog

Contoh Instruksi Kerja lengkap dengan Flowchart dan Panduan Lain

Dalam dokumen ISO, terdapat jenis dokumen yang dikenal sebagai Instruksi Kerja (IK) , dan dokumen ini memiliki fungsi yang sangat penting. Instruksi Kerja memberikan panduan kerja secara rinci dan sistematis. Contoh Instruksi Kerja antara lain IK pengoperasian mesin, IK proses pengeluaran uang kas, serta IK untuk berbagai kegiatan teknis lainnya. Contoh Instruksi Kerja yang dikirim oleh anggota QualityClub dapat kamu unduh. Dokumen tersebut memuat flowchart dalam format Excel. Silakan unduh Instruksi Kerja (IK) dalam format PDF yang tersedia. Link  Instruksi kerja atau IK (pdf) Baca juga: Siapa yang bertanggung jawab membuat prosedur?

Formulir Evaluasi Auditor Internal ISO 9001

Kegiatan audit internal merupakan kegiatan penting dalam sistem manajemen mutu ISO 9001 dan karenanya perlu ditingkatkan. Salah satu cara untuk meningkatkan proses audit internal di perusahaan dengan melakukan evaluasi auditor internal. Tujuannya agar auditor internal bisa dinilai kompetensinya sebagai auditor sehingga bisa ditingkatkan bila hasil penilaian dinyatakan kurang atau tidak memadai. Metode evaluasi atau penilaian auditor internal tidak ditentukan oleh standar manajemen mutu ISO 9001. Tata cara evaluasi auditor ditentukan internal perusahaan.  Pada umumnya evaluasi auditor internal dilakukan dengan mengisi form evaluasi. Berbagai form evaluasi bisa dibuat, salah satunya form evaluasi berikut ini yakni dokumen yang di- share  seorang anggota QualityClub dan bisa Anda gunakan. Evaluasi auditor internal dilaksanakan secara berkala sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan manajemen perusahaan. Silahkan gunakan formulir evaluasi auditor internal di atas. Baca juga: Kualif...

Apakah Management Representative (MR) sebaiknya merangkap jabatan atau berdiri sendiri?

Rangkuman diskusi QualityClub, Selasa, 4 Mei 2021: Pertanyaan Dear rekan-rekan mutu, Menurut pendapat rekan-rekan, dalam suatu perusahaan manufaktur, mana yang lebih efektif untuk jabatan Management Representative (MR): dirangkap dengan jabatan lain atau dibentuk sebagai departemen tersendiri (personel khusus)? Apa saja keuntungan dan kerugian jika MR menjabat secara rangkap atau berdiri sendiri? Jawaban 1 Perlu dilakukan asesmen terlebih dahulu terhadap lingkup dan beban pekerjaan sebelum menentukan apakah jabatan tersebut sebaiknya menjadi departemen tersendiri atau digabung dengan jabatan lain.   Jawaban 2 Saya ikut berpendapat, Pak. Kebetulan saya pernah berada di kedua posisi tersebut. Secara sederhana, gambaran perbandingannya sebagai berikut: Jika dirangkap: Keuntungannya, dari sisi perusahaan, tentu lebih hemat biaya karena satu orang memiliki beberapa kompetensi. Kerugiannya, sulit untuk fokus ketika aktivitas MR meningkat. Jika terpisah: MR dapat lebih fokus menjalanka...