Skip to main content

ISO Sudah 6 Tahun, Kok Masih Banyak Masalah?

Rangkuman Diskusi QualityClub

Salah satu anggota QualityClub menceritakan pengalamannya. Perusahaannya sudah menerapkan ISO selama kurang lebih 6 tahun dan sekarang memasuki tahun ke-7, atau akan menghadapi resertifikasi yang kedua.

Namun, meskipun sudah cukup lama menerapkan ISO, masih banyak masalah yang terjadi. Mulai dari complaint customer sampai keterlambatan maintenance yang akhirnya juga menyebabkan complaint dari customer.

Sebagai Management representative (MR), ia juga sering mendapat sindiran dari Top Management bahwa penerapan ISO di perusahaan hanya sekadar formalitas.

Pertanyaannya kemudian dilempar ke teman-teman di QualityClub:

Apakah ada yang pernah mengalami kondisi seperti ini? Bagaimana cara mengatasinya?

ISO Jangan Menjadi One Man Show

Salah satu tanggapan dalam diskusi menyebutkan bahwa kondisi seperti ini cukup banyak terjadi di perusahaan yang sudah menerapkan ISO, bahkan yang sudah bertahun-tahun.

Salah satu penyebabnya adalah penerapan ISO masih one man show.

ISO seolah-olah menjadi tanggung jawab MR atau Tim ISO saja. Ketika ada dokumen yang belum dibuat, MR yang mengejar. Ketika ada masalah, MR yang ditanya. Ketika audit datang, MR dan Tim ISO yang sibuk mempersiapkan semuanya.

Sementara itu, bagian lain merasa bahwa ISO bukan tanggung jawab mereka.

Padahal sebenarnya ISO adalah sistem perusahaan, bukan sistemnya MR atau Tim ISO.

ISO Sering Dianggap Menambah Pekerjaan

Memang tidak bisa dipungkiri, di banyak tempat masih ada anggapan bahwa ISO hanya menambah pekerjaan.

Apalagi kalau yang dilakukan oleh PIC ISO hanya mengingatkan:

  • “Ini belum sesuai ISO.”
  • “Form-nya belum diisi.”
  • “Prosedurnya belum dijalankan.”

Kalau pendekatannya seperti itu terus, wajar kalau orang akhirnya merasa ISO hanya menambah pekerjaan. Karena itu, menjadi PIC ISO memang harus tebal muka. Tetapi bukan berarti kita hanya terus-menerus meminta divisi lain mengikuti persyaratan ISO.

Bantu Menyelesaikan Masalah

Menurut saya, pendekatan yang lebih baik adalah membantu divisi lain menyelesaikan masalah mereka. Misalnya ada complaint customer karena keterlambatan pengiriman. Jangan langsung mengatakan: “Ini tidak sesuai ISO.” Tetapi bantu dulu mencari tahu: Kenapa bisa terlambat? 

Setelah ditemukan penyebabnya, kita bantu mencari solusi agar masalah tersebut tidak terulang.
Baru kemudian kita jelaskan:
“Nah, supaya kejadian seperti ini tidak berulang, sebenarnya di ISO ada pendekatan seperti ini. Kita bisa atur prosesnya seperti ini.”

Dengan cara seperti itu, orang akan melihat bahwa ISO bukan sekadar aturan tambahan. ISO justru bisa membantu mereka menyelesaikan masalah.

ISO Bukan Sekadar Sertifikat

Pada akhirnya, keberhasilan ISO bukan hanya dilihat dari apakah sertifikat masih berlaku atau tidak. Yang lebih penting adalah apakah penerapan ISO benar-benar membantu perusahaan.

  • Apakah complaint customer berkurang?
  • Apakah masalah yang sama tidak terus berulang?
  • Apakah maintenance dilakukan tepat waktu?
  • Apakah setiap bagian memahami tanggung jawabnya?
  • Kalau belum, berarti masih ada yang perlu diperbaiki.

Jadi, setelah 6 atau 7 tahun menerapkan ISO, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah kita benar-benar menerapkan ISO, atau hanya menjalankan ISO karena ada audit dan sertifikat?”

Menurut saya, di situlah tantangan sebenarnya dalam penerapan ISO.
ISO bukan sekadar untuk mendapatkan sertifikat, tetapi untuk membantu perusahaan bekerja lebih baik.

===

Join QualityClub

QualityClub adalah komunitas WhatsApp yang dikelola oleh Sintegral Consulting sebagai forum bagi para praktisi, tim ISO, internal auditor, document control, dan pemerhati sistem manajemen untuk berbagi pengalaman, berdiskusi, belajar, serta mencari solusi terkait penerapan berbagai standar ISO.

Untuk menjadi anggota QualityClub, isi formulir pendaftaran

Comments

Popular posts from this blog

Apakah Management Representative (MR) sebaiknya merangkap jabatan atau berdiri sendiri?

Rangkuman diskusi QualityClub, Selasa, 4 Mei 2021: Pertanyaan Dear rekan-rekan mutu, Menurut pendapat rekan-rekan, dalam suatu perusahaan manufaktur, mana yang lebih efektif untuk jabatan Management Representative (MR): dirangkap dengan jabatan lain atau dibentuk sebagai departemen tersendiri (personel khusus)? Apa saja keuntungan dan kerugian jika MR menjabat secara rangkap atau berdiri sendiri? Jawaban 1 Perlu dilakukan asesmen terlebih dahulu terhadap lingkup dan beban pekerjaan sebelum menentukan apakah jabatan tersebut sebaiknya menjadi departemen tersendiri atau digabung dengan jabatan lain.   Jawaban 2 Saya ikut berpendapat, Pak. Kebetulan saya pernah berada di kedua posisi tersebut. Secara sederhana, gambaran perbandingannya sebagai berikut: Jika dirangkap: Keuntungannya, dari sisi perusahaan, tentu lebih hemat biaya karena satu orang memiliki beberapa kompetensi. Kerugiannya, sulit untuk fokus ketika aktivitas MR meningkat. Jika terpisah: MR dapat lebih fokus menjalanka...

Formulir Evaluasi Auditor Internal ISO 9001

Kegiatan audit internal merupakan kegiatan penting dalam sistem manajemen mutu ISO 9001 dan karenanya perlu ditingkatkan. Salah satu cara untuk meningkatkan proses audit internal di perusahaan dengan melakukan evaluasi auditor internal. Tujuannya agar auditor internal bisa dinilai kompetensinya sebagai auditor sehingga bisa ditingkatkan bila hasil penilaian dinyatakan kurang atau tidak memadai. Metode evaluasi atau penilaian auditor internal tidak ditentukan oleh standar manajemen mutu ISO 9001. Tata cara evaluasi auditor ditentukan internal perusahaan.  Pada umumnya evaluasi auditor internal dilakukan dengan mengisi form evaluasi. Berbagai form evaluasi bisa dibuat, salah satunya form evaluasi berikut ini yakni dokumen yang di- share  seorang anggota QualityClub dan bisa Anda gunakan. Evaluasi auditor internal dilaksanakan secara berkala sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan manajemen perusahaan. Silahkan gunakan formulir evaluasi auditor internal di atas. Baca juga: Kualif...

Contoh Instruksi Kerja lengkap dengan Flowchart dan Panduan Lain

Dalam dokumen ISO, terdapat jenis dokumen yang dikenal sebagai Instruksi Kerja (IK) , dan dokumen ini memiliki fungsi yang sangat penting. Instruksi Kerja memberikan panduan kerja secara rinci dan sistematis. Contoh Instruksi Kerja antara lain IK pengoperasian mesin, IK proses pengeluaran uang kas, serta IK untuk berbagai kegiatan teknis lainnya. Contoh Instruksi Kerja yang dikirim oleh anggota QualityClub dapat kamu unduh. Dokumen tersebut memuat flowchart dalam format Excel. Silakan unduh Instruksi Kerja (IK) dalam format PDF yang tersedia. Link  Instruksi kerja atau IK (pdf) Baca juga: Siapa yang bertanggung jawab membuat prosedur?